Khotbah Ekspositori β Markus 14:26-31
"Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus dan murid-murid-Nya ke Bukit Zaitun. Lalu Yesus berkata kepada mereka: 'Kamu semua akan tergoncang imanmu, sebab ada tertulis: Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai. Tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.' Kata Petrus kepada-Nya: 'Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak.' Jawab Yesus: 'Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.' Tetapi dengan lebih keras lagi Petrus berkata: 'Sekalipun aku harus mati bersama-sama dengan Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.' Semua murid yang lainpun berkata demikian."
Kesetiaan sejati kepada Kristus tidak dibangun di atas kepercayaan diri yang berapi-api β karena iman yang mengandalkan kekuatan sendiri pasti akan runtuh ketika diuji β melainkan di atas pengenalan yang jujur tentang kelemahan diri dan kesetiaan Gembala yang rela dipukul bagi domba-domba-Nya.
Kita memiliki kecenderungan kronis untuk melebih-lebihkan kekuatan rohani kita sendiri dan meremehkan kerentanan kita terhadap dosa. Seperti Petrus, kita berkata "Aku tidak akan jatuh" β justru pada saat kita paling dekat dengan kejatuhan. Ironi terbesarnya: semakin yakin kita bahwa kita "tidak mungkin jatuh," semakin rentan kita sebenarnya.
Nyanyian yang dimaksud Markus hampir pasti adalah Hallel (Mazmur 115-118) β yang secara tradisional dinyanyikan di bagian akhir perjamuan Paskah. Yesus baru saja mengumumkan pengkhianatan, tubuh-Nya yang akan dipecahkan, dan darah-Nya yang akan ditumpahkan. Ia tahu dalam beberapa jam Ia akan ditangkap, diadili, dicambuk, dan disalibkan.
Dan Ia bernyanyi.
Yesus menghadapi penderitaan yang paling gelap dengan pujian di bibir-Nya. Bukan karena penderitaan itu tidak nyata β tetapi karena kesetiaan Allah yang Ia puji lebih nyata dari penderitaan yang Ia hadapi.
Yesus pergi ke tempat yang Ia tahu akan menjadi tempat penangkapan-Nya. Ia tidak melarikan diri. Ia berjalan langsung ke sana β karena Ia berjalan menurut rencana Bapa, bukan menurut naluri bertahan hidup.
Kata "tergoncang" dalam bahasa Yunani adalah skandalisthΔsesthe β dari akar kata skandalon, yang berarti "batu sandungan" atau "perangkap." Ini bukan sekadar "goyah sedikit" β ini adalah kejatuhan iman yang serius.
Yesus mengutip Zakharia 13:7: "Aku akan memukul gembala dan domba-domba itu akan tercerai-berai." Dengan mengutip nubuat ini, Yesus menyatakan bahwa apa yang akan terjadi malam ini bukan kecelakaan sejarah β ini semua terjadi sesuai dengan rencana Allah yang berdaulat.
Yesus mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Gembala Israel β gelar yang di seluruh Perjanjian Lama hanya diberikan kepada Allah sendiri. Ia menyatakan bahwa Ia akan dipukul oleh Allah sendiri β pernyataan tentang penghakiman substitusional.
Ketika Gembala dipukul, domba-domba tercerai-berai. Pelarian murid-murid bukan hanya karena ketakutan β ini adalah konsekuensi kosmis dari pemukulan Gembala.
Jika kesebelas murid yang telah bersama Yesus selama tiga tahun saja tidak mampu bertahan β jangan pernah berpikir bahwa kita akan mampu bertahan dengan kekuatan sendiri.
Ayat 28 dimulai dengan kata "tetapi" (alla dalam bahasa Yunani) β kata yang membalikkan arah. Setelah segala kegelapan di ayat 27, muncul satu kata kecil yang mengubah segalanya.
| π Ayat | Isi | Nada |
|---|---|---|
| 27a | "Kamu semua akan tergoncang imanmu" | π Gelap β nubuatan kejatuhan |
| 27b | "Aku akan memukul gembala dan domba tercerai-berai" | π Lebih gelap β kutipan penghakiman |
| 28 | "Tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea" | βοΈ TERANG β janji kebangkitan |
| 29-31 | Petrus menolak nubuatan, Yesus mengonfirmasi | π Kembali gelap |
Kata "mendahului" (proaxΕ) secara harfiah berarti "berjalan di depan, memimpin jalan." Ini adalah bahasa penggembalaan β gembala berjalan di depan kawanannya, bukan di belakang.
Mengapa Galilea? Karena Galilea adalah tempat di mana semuanya dimulai β tempat di mana Yesus pertama kali memanggil murid-murid-Nya. Yesus berkata: "Setelah kalian gagal, Aku akan membawa kalian kembali ke titik awal β dan kita mulai lagi."
"Biarpun mereka SEMUA tergoncang, AKU tidak."
Ada tiga masalah besar dalam pernyataan ini:
Yesus memprediksi dengan presisi: "hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Kokok ayam pertama ~12:30-1:30 dini hari, kedua ~1:30-2:30.
Dosa memiliki kemampuan untuk membutakan kita tentang diri kita sendiri. Orang yang paling rentan jatuh sering kali adalah orang yang paling yakin bahwa ia tidak akan jatuh. Kesombongan rohani adalah tanah yang paling subur bagi kejatuhan rohani.
Di malam ketika Ia tahu Ia akan ditinggalkan oleh semua sahabat-Nya dan dihancurkan oleh murka Bapa-Nya β Ia bernyanyi. Kesetiaan Yesus kepada misi-Nya tidak tergoyahkan oleh prospek penderitaan.
Yesus memberitahu murid-murid tentang kegagalan yang akan datang. Ini bukan tindakan kejam β ini adalah tindakan kasih. Seorang gembala yang baik memperingatkan domba-domba-Nya tentang bahaya yang ada di depan.
"Sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea." Ini adalah demonstrasi kasih karunia yang preemptif β kasih karunia yang mendahului dosa.
Setelah semua percakapan ini β setelah murid-murid membuat janji yang akan mereka langgar β Yesus tetap berjalan ke Getsemani. Ia tahu semua yang berjanji "aku akan mati bersamamu" akan lari dalam hitungan jam.
Kesetiaan Kristus tidak bergantung pada kesetiaan kita. Ia tidak berkata: "Baiklah, karena kalian berjanji akan setia, maka Aku akan pergi ke salib." Seandainya semua murid jujur dan berkata mereka akan lari β Yesus tetap akan pergi ke salib.
Bahkan orang-orang yang paling dekat dengan Yesus β yang telah melihat mukjizat dan hidup bersama-Nya selama tiga tahun β tidak mampu bertahan dalam kesetiaan dengan kekuatan mereka sendiri.
"Dari kerusakan alamiah ini... timbullah semua pelanggaran yang aktual." β Pengakuan Iman Westminster VI.4
Allah yang berinisiatif β bukan manusia. Ia memilih kita sebelum kita memilih-Nya. Ia mengasihi kita sebelum kita mengasihi-Nya. Pemulihan sudah disiapkan sebelum kegagalan.
"Kita mengasihi Dia, karena Dia lebih dahulu mengasihi kita." β 1 Yohanes 4:19
Apa yang membedakan Petrus dari Yudas? Yesus berdoa untuk Petrus β tetapi tidak untuk Yudas. Petrus bertahan bukan karena kekuatan Petrus, tetapi karena doa Yesus yang tidak pernah gagal.
"Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur." β Lukas 22:32
Pada malam itu, di jalan dari ruangan atas ke Bukit Zaitun, dua jenis kesetiaan berhadapan:
Kesetiaan Petrus: berapi-api, vokal, penuh percaya diri β dan runtuh dalam hitungan jam.
Kesetiaan Kristus: tenang, pasti, tak tergoyahkan β yang bernyanyi menuju kematian, yang menyiapkan pemulihan sebelum kejatuhan, dan yang berjalan ke Getsemani sendirian ketika semua orang lari.