Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merombak tembok pemisah, yaitu perseteruan...
Kristus telah merombak tembok pemisah melalui kematian-Nya di salib, menciptakan satu manusia baru, dan mempersatukan semua orang percaya menjadi satu keluarga Allah dan satu bait Allah yang kudus.
Bayangkan sebuah tembok — tinggi, tebal, kokoh — yang memisahkan dua kelompok manusia.
Di satu sisi: kelompok yang "di dalam" — yang merasa superior, yang memiliki hak istimewa. Di sisi lain: kelompok yang "di luar" — yang dianggap inferior, yang hidup tanpa pengharapan dan tanpa Allah.
"Tidak ada orang asing yang boleh melewati pagar dan tembok ini mengelilingi Bait Suci. Siapa pun yang tertangkap melakukannya akan bertanggung jawab atas kematiannya sendiri." — Tulisan di tembok Bait Allah Herodes, memisahkan Pelataran Bangsa-Bangsa dari IsraelTembok pemisah itu bukan hanya ada di abad pertama. Masih ada hari ini — bahkan di dalam gereja:
- Tembok antara yang kaya dan yang miskin
- Tembok antara suku mayoritas dan suku minoritas
- Tembok antara generasi tua dan generasi muda
- Tembok antara yang sudah lama di gereja dan yang baru percaya
- Tembok antara denominasi yang saling curiga
Tetapi hari ini, Paulus mengumumkan berita yang meledakkan semua tembok itu: Kristus telah merombak tembok pemisah — bukan dengan negosiasi, bukan dengan kompromi, melainkan dengan darah-Nya, kematian-Nya, dan salib-Nya.
Mnēmoneuete — imperatif present — perintah untuk terus-menerus mengingat. Mengapa mengingat itu penting?
- Mencegah kesombongan — jika kita lupa bahwa dahulu kita jauh, kita akan berpikir kita lebih baik dari orang lain
- Memperdalam syukur kepada Allah yang membawa kita dekat
- Menghasilkan belas kasihan kepada mereka yang masih jauh
| Lima "Tanpa" | Artinya |
|---|---|
| Tanpa Kristus | Tanpa Juruselamat, tanpa Pengantara |
| Tanpa kewargaan Israel | Orang asing, outsider, dikucilkan |
| Tanpa janji-janji | Tidak termasuk rencana keselamatan |
| Tanpa pengharapan | Tidak ada masa depan, tidak ada tujuan |
| Tanpa Allah | Beragama tetapi lost, aktif tetapi kosong |
Efesus 2:12 adalah salah satu ayat paling suram dalam Perjanjian Baru — gambaran tentang kekosongan total, keterasingan total dari kehidupan tanpa Allah. Ini bukan hanya tentang non-Yahudi abad pertama — ini adalah gambaran universal setiap manusia di luar Kristus.
Tetapi ayat 12 bukan akhir cerita. Karena ayat 13 dimulai dengan dua kata yang paling indah:
Nuni de — kontras dramatis antara dahulu dan sekarang. Ini adalah pembalikan kosmis yang sama:
Persatuan gereja bukan hasil dari:
- Kompromi teologis — "abaikan perbedaan doktrin kita"
- Toleransi dangkal — "setuju untuk tidak setuju"
- Usaha diplomasi manusia — "coba lebih ramah"
Prinsip: Persatuan gereja dibeli dengan harga yang sangat mahal: darah Kristus. Jika Kristus mati untuk mempersatukan kita — bagaimana kita berani mempertahankan perpecahan?
"Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merombak tembok pemisah, yaitu perseteruan..."
Dialah Damai SejahteraKristus bukan hanya memberikan damai sejahtera — Dia adalah damai sejahtera itu sendiri. Pribadi-Nya adalah sumber dan jaminan dari persatuan kita.
Merombak TembokLusas — menghancurkan, merobohkan, melenyapkan. Kristus tidak memperbaiki atau membuat pintu kecil di tembok itu. Kristus merombak total tembok itu.
Prinsip: Setiap tembok yang kita bangun untuk memisahkan "kita" dari "mereka" adalah penghinaan terhadap karya Kristus yang sudah merombak tembok itu di salib.
Ktisē — kata yang sama dengan "penciptaan" di Kejadian 1. Ini adalah tindakan kreatif Allah — identitas yang sama sekali baru:
- Bukan Yahudi yang menjadi non-Yahudi
- Bukan non-Yahudi yang menjadi Yahudi
- Melainkan satu manusia baru: Gereja
| Dimensi | Isi |
|---|---|
| Horizontal (Ay. 14–15) | Yahudi dengan non-Yahudi — yang terpisah sekarang dipersatukan |
| Vertikal (Ay. 16) | Kedua kelompok dengan Allah — yang di bawah murka, kini diterima |
Dan klimaksnya adalah persatuan Trinitarian (Ay. 18):
- Oleh Kristus — Anak yang mati di salib
- Dalam satu Roh — Roh Kudus yang menyatukan
- Kepada Bapa — yang menerima dan mengadopsi kita
| Dahulu | Sekarang |
|---|---|
| Orang asing (xenoi) | Kawan sewarga dari orang-orang kudus |
| Pendatang (paroikoi) | Anggota keluarga Allah |
Bukan hanya warga negara (yang terasa formal dan jauh) — kita adalah anggota keluarga, anak-anak yang tinggal di rumah Bapa.
"Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: 'ya Abba, ya Bapa!'" — Roma 8:15Akrogōniaios — batu yang menentukan arah, bentuk, dan kesatuan seluruh bangunan. Kristus adalah:
- Dasar — tidak ada gereja tanpa Kristus
- Penentu arah — gereja harus sejalan dengan Kristus
- Pemersatu — semua batu terhubung kepada Kristus dan satu sama lain
| Metafora | Kebenaran |
|---|---|
| Keluarga Allah (Ay. 19) | Kita bersaudara — Bapa yang sama, identitas yang sama, warisan yang sama |
| Bait Allah (Ay. 20–22) | Kita batu-batu hidup yang dibangun bersama — Kristus sebagai batu penjuru, tempat kediaman Allah |
Kristus mati untuk merombak tembok pemisah (ay. 14), untuk menciptakan satu manusia baru (ay. 15), untuk memperdamaikan kedua pihak (ay. 16). Jika persatuan adalah hasil dari karya Kristus — maka perpecahan adalah pengingkaran terhadap karya Kristus.
Keduanya menjadi satu manusia baru (ay. 15) — identitas baru yang melampaui kategori lama tanpa menghapus keunikan individu.
- Persatuan = satu dalam Kristus, satu dalam iman, satu dalam kasih
- Bukan uniformitas = semua harus sama dalam cara ibadah, ekspresi budaya, preferensi
Dahulu tanpa Kristus → sekarang di dalam Kristus. Dahulu orang asing → sekarang anggota keluarga. Dahulu tanpa pengharapan → sekarang ahli waris bersama. Dahulu tanpa Allah → sekarang tempat kediaman Allah.
Ingatlah — bukan untuk menyiksa diri, melainkan untuk bersyukur, rendah hati, dan berbelas kasihan kepada mereka yang masih jauh seperti kita dahulu.
Pertanyaan pemeriksaan diri:
- Apakah ada kelompok tertentu yang saya tidak nyaman bersekutu dengannya?
- Apakah saya memiliki prasangka tersembunyi terhadap yang berbeda?
- Apakah saya merasa superior karena status, pendidikan, atau lamanya di gereja?
- Apakah saya membangun klik eksklusif yang membuat orang lain tidak diterima?
Spoudazontes (Ef. 4:3) — "berusahalah" — ini membutuhkan usaha aktif. Cara-cara praktis:
- Berdoa untuk saudara-saudari yang berbeda dari Saudara
- Melayani bersama — pelayanan bersama meruntuhkan tembok
- Makan bersama — meja makan adalah tempat persahabatan tumbuh
- Mendengarkan cerita dan pergumulan yang berbeda latar belakang
- Merayakan keragaman sebagai kekayaan, bukan ancaman
Saudara bukan individu yang terisolasi. Saudara memiliki tempat yang spesifik, terhubung dengan batu-batu lain, dan Kristus adalah batu penjuru yang menentukan posisi Saudara.
Ketika gereja bersatu — Allah berdiam di tengah kita. Ketika gereja terpecah — kehadiran Allah terhalang.
Penutup: Dipersatukan di dalam Kristus
| Dahulu (Ay. 11–12) | Sekarang (Ay. 13–22) |
|---|---|
| Terpisah, orang asing | Dibawa dekat oleh darah Kristus |
| Lima "Tanpa" | Tembok dirombak, damai sejahtera |
| Jauh dari Allah | Akses kepada Bapa dalam satu Roh |
| Outsider, pendatang | Satu keluarga, satu bait Allah |
Semuanya terjadi di dalam Kristus. Di luar Kristus — kita terpisah, terisolasi, sendirian. Di dalam Kristus — kita dipersatukan, diterima, menjadi satu keluarga.
Tugas kita bukan menciptakan persatuan — persatuan sudah ada. Tugas kita adalah memelihara persatuan yang Kristus sudah ciptakan (Efesus 4:3).
Dan di dunia yang terpecah-belah — dipisahkan oleh ras, kelas, politik, budaya — gereja harus menjadi komunitas yang berbeda: tempat di mana orang asing menjadi keluarga, tembok dirombak, dan kasih Kristus mengalahkan semua prasangka.
Segala puji bagi Kristus — Sang Pemersatu, Sang Pembuat Damai, Batu Penjuru gereja-Nya — yang mati untuk mempersatukan kita dan yang hidup untuk memelihara kita dalam kesatuan.