Kita Canggung
Membicarakan Ini
Mari kita mulai dengan sebuah pengakuan jujur: banyak orang Kristen tidak tahu harus berbuat apa dengan Kidung Agung. Kita baca bagian-bagian lain Alkitab dengan percaya diri. Tapi begitu tiba di sini — di kitab yang berbicara tentang tubuh yang indah, tentang pelukan di waktu malam, tentang kerinduan dua manusia yang mencintai satu sama lain — kita tiba-tiba mendadak pendiam.
Ada yang mencoba menyelamatkan situasi dengan menafsirkan semuanya secara alegoris: "Ini bukan tentang pria dan wanita sungguhan, ini tentang Kristus dan jemaat." Tafsiran itu indah — dan ada kebenarannya. Tapi saat kita hanya lari ke alegori setiap kali teks berbicara tentang tubuh dan nafsu, kita mungkin sedang menghindari sesuatu yang Tuhan sendiri taruh di sana dengan sengaja.
Pertanyaan yang tepat bukan: "Bagaimana cara saya membuat teks seksual ini terdengar rohani?" Pertanyaan yang tepat adalah: Apa yang sedang Tuhan ajarkan kepada kita melalui kenikmatan cinta?
Hari ini kita tidak akan melarikan diri. Kita akan duduk dengan teks ini — jujur, serius, dan dengan hormat yang tulus kepada Sang Penulis yang menginspirasinya.
Apa yang
Sebenarnya Terjadi?
Pasal 7 dan 8 Kidung Agung adalah bagian dari sebuah drama cinta yang hidup, berdenyut, dan tak malu-malu mengekspresikan dirinya. Ini bukan kisah cinta yang sudah dingin dan formal. Ini adalah cinta yang masih menyala.
"Betapa cantik kakimu dalam sandal, hai puteri raja! Lekuk pahamu bagai perhiasan, karya tangan seorang seniman."
Kidung Agung 7:2 (TB)
Si pria — yang oleh beberapa penafsir disebut sebagai Salomo, oleh yang lain sebagai sang gembala — berdiri di hadapan perempuan yang dicintainya. Dan ia tidak berbicara tentang kepribadiannya saja. Ia melihat tubuhnya. Ia mengaguminya. Ia mengatakan apa yang ia rasakan — dengan puisi yang kaya dan tanpa malu.
Lalu pada pasal 7:10–13, sang perempuan merespons. Dan responsnya adalah undangan:
"Aku kepunyaan kekasihku, dan keinginannya tertuju kepadaku. Marilah, kekasihku, kita pergi ke ladang... di sanalah aku akan memberikan kasihku kepadamu."
Kidung Agung 7:11–13 (TB)
Ini bukan perempuan yang pasif. Ini adalah perempuan yang sadar, yang memiliki keinginan, yang mengambil inisiatif. Lalu di pasal 8:1–5, kerinduan itu semakin dalam — bahkan ada ekspresi yang paling intim: seorang perempuan yang berharap kekasihnya seperti saudaranya sendiri, agar ia bisa menciumnya di depan umum tanpa dikira tidak sopan.
Konteks kultural: Di dunia kuno Timur Tengah, ciuman di tempat umum hanya boleh antara saudara kandung. Sang perempuan mendambakan keintiman yang bisa hadir di semua ruang kehidupannya — bukan hanya di kamar. Ini bukan sekadar nafsu fisik. Ini kerinduan akan cinta yang utuh dan tak terbagi.
Tiga Kebenaran
yang Mengubah Segalanya
-
1
Kenikmatan Cinta adalah Pemberian Tuhan, Bukan Godaan Iblis
Kita sering hidup dengan asumsi diam-diam bahwa segala sesuatu yang terasa nikmat itu mencurigakan secara rohani. Tapi siapa yang menciptakan tubuh? Siapa yang merancang sistem saraf dengan kemampuan merasakan sentuhan? Siapa yang menanamkan hasrat kepada manusia pertama dan berkata, "Sangat baik"? Tuhan tidak menciptakan tubuh lalu menyesal. Kenikmatan cinta dalam relasi yang kudus adalah karya tangan-Nya — dan Ia tersenyum melihatnya.
-
2
Cinta yang Sehat adalah Cinta yang Setara
Perhatikan bagaimana teks ini berbeda dari banyak narasi cinta di dunia kuno. Di sini, perempuan bukanlah objek pasif. Ia berbicara. Ia merindukan. Ia mengundang. Ia memiliki suara. Kidung Agung menampilkan visi cinta di mana dua manusia saling mengagumi, saling menginginkan, saling memberi. Ini adalah cinta yang memuliakan keduanya — bukan yang memangsa salah satunya.
-
3
Kerinduan adalah Bahasa Rohani
Ketika sang perempuan di pasal 8 berkata, "Seandainya engkau seperti saudaraku..." — itu bukan sekedar puisi. Itu adalah ekspresi kerinduan terdalam manusia: ingin hadir sepenuhnya bersama orang yang dicintai, di setiap ruang, di setiap waktu. Para bapa gereja seperti Origenes dan Bernard dari Clairvaux melihat di sini bayangan kerinduan jiwa kepada Allah. Dan mereka tidak salah. Tuhan menaruh di dalam kita kapasitas untuk rindu — karena pada akhirnya, semua kerinduan terdalam kita menunjuk kepada Dia.
Apa Artinya
Bagi Kita Sekarang?
Kita hidup di dunia yang punya dua masalah berlawanan soal seksualitas. Di satu sisi, dunia sekular mereduksi tubuh dan seks menjadi komoditas — sesuatu yang dikonsumsi, bukan dirayakan dalam komitmen. Di sisi lain, banyak komunitas keagamaan menciptakan rasa malu yang tidak perlu seputar tubuh dan kenikmatan fisik dalam pernikahan, seolah itu adalah sesuatu yang "kurang rohani."
Kidung Agung menolak kedua ekstrem itu. Ia tidak menganggap tubuh sebagai kotor. Tapi ia juga tidak memisahkan kenikmatan dari komitmen dan kesetiaan. Kenikmatan cinta yang sejati tumbuh di dalam taman yang dipagari — bukan karena pagar itu membatasi, tapi karena pagar itu yang membuatnya bisa berkembang dengan aman.
Perhatikan setting teks ini: ladang, pohon-pohon apel, anggur yang mekar, bunga-bunga di musim semi. Ini adalah gambaran taman. Dan taman adalah tempat yang dirawat — ada yang menjaganya, ada yang menanaminya, ada yang setia hadir hari demi hari.
Bagi yang sudah menikah: Kidung Agung mengajak kita untuk tidak membiarkan cinta kita layu. Jangan biarkan kesibukan, rutinitas, atau kelelahan mencuri keindahan yang Tuhan taruh dalam relasi kita. Sang perempuan berkata, "Marilah kita pergi ke ladang..." — itu adalah undangan untuk merawat, untuk hadir, untuk kembali lagi kepada satu sama lain.
Bagi yang belum menikah: Kidung Agung mengajarkan bahwa hasrat dan kerinduan itu baik. Jangan dimatikan, jangan ditekan dengan malu — tapi arahkan dengan hikmat. Tunggu taman yang tepat, di mana cinta bisa tumbuh dengan benar.
Bagi semua orang: Teks ini mengingatkan kita bahwa kerinduan adalah bagian dari siapa kita sebagai manusia. Dan di balik setiap kerinduan terdalam kita ada Dia yang menciptakan kita — yang menunggu dengan kesabaran seorang kekasih, dan berkata: "Aku kepunyaanmu, dan keinginanku tertuju kepadamu."