Ibadah Minggu · GKI Silo Entrop
Tema: Kebenaran yang akan terungkap
Kebenaran tidak perlu berteriak — ia hanya perlu waktu; dan tiang yang kita bangun untuk menjatuhkan orang lain pada akhirnya mengukur diri kita sendiri.
[mulai tenang, jangan buru-buru]
Ada satu kalimat dalam bacaan kita pagi ini yang seharusnya membuat kita semua sedikit tidak nyaman. Kalimat itu tidak keluar dari mulut Ester. Tidak juga dari mulut Haman. Kalimat itu keluar dari mulut raja:
“Siapakah orang itu dan di manakah dia yang hatinya mengandung niat akan berbuat demikian?”Ester 7:5
[jeda — biarkan pertanyaan itu menggantung]
Dengar sekali lagi. Raja bertanya siapa yang berani merancang pembunuhan atas satu bangsa di dalam wilayah kekuasaannya sendiri. Padahal cincin meterai yang mengesahkan rancangan itu adalah cincinnya. Dia yang mencabutnya dari jari dan menyerahkannya kepada Haman. Dia juga yang berkata, “perak itu terserah padamu, dan bangsa itu pun, perlakukanlah seperti yang kaupandang baik.”
Dan raja itu tidak sedang berpura-pura. Ia betul-betul tidak tahu.
[pelan, tegas]
Justru itu yang mengerikan. Karena hari itu kebenaran tidak hanya menelanjangi seorang penjahat. Kebenaran hari itu juga menelanjangi seorang penguasa yang menandatangani sesuatu tanpa pernah membacanya.
Kita yang tinggal di sekitar Teluk Youtefa tahu satu hal tanpa perlu dijelaskan dua kali: apa yang dibuang ke laut tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya pergi sebentar. Waktu air pasang, ia kembali — tersangkut di akar-akar bakau, terdampar di pantai yang sama dengan orang yang membuangnya. Laut tidak berdebat. Laut tidak menuduh siapa-siapa. Laut hanya mengembalikan.
Pagi ini kitab Ester mau memberi tahu kita: hidup manusia punya pasang surut yang sama.
Supaya kita tidak salah dengar, mari berdiri sebentar di tempat cerita ini terjadi.
Kita berada di Susan, ibu kota kerajaan Persia, kira-kira lima ratus tahun sebelum Kristus. Orang Yahudi di sana bukan tamu terhormat. Mereka keturunan orang buangan — kelompok kecil, di negeri orang, tanpa Bait Allah, tanpa raja sendiri, tanpa nabi yang berdiri di pintu gerbang. Mereka minoritas yang hidupnya bergantung pada suasana hati seorang raja asing.
Dan inilah yang sering luput kita perhatikan: di seluruh kitab Ester, nama Allah tidak pernah disebut satu kali pun. Tidak ada mukjizat. Tidak ada suara dari langit. Tidak ada nabi yang berkata “beginilah firman TUHAN”. Hanya istana, jamuan makan, politik, dan manusia.
Para rabi punya permainan kata untuk itu. Mereka menghubungkan nama Ester dengan kata Ibrani hastēr — “menyembunyikan” — dari Ulangan 31:18, “Aku akan menyembunyikan wajah-Ku.” Saya harus jujur: itu permainan kata para penafsir, bukan asal-usul nama Ester yang sebenarnya. Tetapi permainan kata itu menangkap sesuatu yang betul tentang kitab ini. Allah sedang bekerja dengan wajah yang tersembunyi.
[lebih cepat — ini ringkasan cerita, jangan berlama-lama]
Alurnya begini. Pasal 3: Haman naik pangkat, tersinggung karena satu orang Yahudi bernama Mordekhai tidak mau tunduk, lalu ia tidak puas hanya membalas satu orang — ia merancang pemusnahan satu bangsa. Ia menawarkan uang dalam jumlah luar biasa besar ke kas kerajaan, dan raja mengiakan tanpa banyak bertanya. Surat dikirim ke seluruh provinsi: pada satu hari yang telah ditetapkan, semua orang Yahudi — tua, muda, perempuan, anak-anak — dibunuh.
Pasal 4: Mordekhai mengirim pesan kepada Ester. Kalimatnya kita hafal — “siapa tahu, justru untuk saat seperti inilah engkau mendapat kedudukan sebagai ratu.” Pasal 5: Ester masuk menghadap raja tanpa dipanggil, mempertaruhkan nyawanya, lalu — anehnya — ia tidak langsung bicara. Ia mengundang raja dan Haman makan. Sekali. Lalu mengundang lagi untuk besok.
Pasal 6, semalam sebelum jamuan kedua: raja tidak bisa tidur. Ia minta dibacakan kitab pencatatan sejarah. Dan yang terbaca justru catatan lama tentang Mordekhai yang pernah menggagalkan rencana pembunuhan terhadap raja. Pagi harinya Haman datang untuk minta izin menggantung Mordekhai — dan pulang setelah dipaksa menuntun kuda Mordekhai keliling kota sambil berseru memuji dia.
[jeda]
Perhatikan: tidak ada satu pun mukjizat di situ. Cuma insomnia seorang raja tua dan sebuah arsip yang berdebu. Itu saja alat yang dipakai. Dan pasal 7 kita hari ini dimulai persis satu hari setelah malam yang tidak bisa tidur itu.
Raja mengulang pertanyaan yang sudah dua kali ia ajukan: “Apakah permintaanmu, hai ratu Ester? Sampai setengah kerajaan pun akan diberikan kepadamu.”
Dan sekarang, baru sekarang, Ester bicara.
“Kalau hamba mendapat kasih raja, karuniakanlah kiranya kepada hamba nyawa hamba — itulah permintaan hamba — dan bangsa hamba, itulah keinginan hamba.”Ester 7:3
Kalau kita baca cepat, kalimat itu terdengar seperti permohonan biasa. Kalau kita baca pelan, kalimat itu adalah operasi yang direncanakan dengan sangat cermat.
Pertama, Ester memakai kata-kata Haman sendiri. Ayat 4: “kami telah dijual untuk dipunahkan, dibunuh, dan dibinasakan.” Tiga kata kerja itu bukan pilihan diksi yang kebetulan. Itu tiga kata kerja yang sama persis dengan yang tertulis dalam surat keputusan di pasal 3 ayat 13 — surat yang dimeteraikan dengan cincin raja. Ester tidak sedang mengarang tuduhan. Ia sedang membacakan kembali dokumen negara di depan orang yang menandatanganinya.
[tekan kata "dijual"]
Kedua, ia memakai kata “dijual”. Itu menunjuk pada uang yang ditawarkan Haman. Dengan satu kata, Ester menempatkan tragedi bangsanya bukan sebagai bencana alam, melainkan sebagai transaksi. Ada yang membayar. Ada yang menerima. Ada harga yang disepakati di atas kepala orang-orang yang tidak pernah diajak bicara.
Ketiga — dan ini bagian yang paling sering dilewati — Ester menyebutkan batas diamnya:
“Seandainya kami hanya dijual sebagai budak laki-laki dan perempuan, niscaya hamba akan berdiam diri.”Ester 7:4
Ini kalimat yang jujur sampai terasa tidak nyaman. Ester mengakui: ada tingkat penderitaan yang ia mungkin masih bisa tanggung tanpa membuka mulut. Ia tidak berpura-pura menjadi pahlawan yang selalu berani. Ia berkata: kali ini sudah lewat batas.
Dan di situlah pertanyaannya berbalik kepada kita, jemaat.
[pelan]
Di mana batas diam saudara? Berapa besar ketidakadilan yang harus terjadi sebelum saudara merasa itu urusan saudara? Kalau yang dirugikan orang lain — masih bisa diam. Kalau yang difitnah bukan keluarga saya — masih bisa diam. Kalau uang yang hilang bukan uang saya — masih bisa diam. Kita semua punya garis itu. Ester punya. Bedanya, ia menyebutkan garisnya dengan suara keras, dan ia melangkahinya.
Satu catatan penting supaya kita tidak salah tiru. Ester menunggu dua kali jamuan. Bagi banyak orang itu kelihatan seperti keraguan. Sebenarnya itu ketepatan. Kalau ia bicara di hari pertama, Haman masih berada di puncak pengaruhnya. Ia bicara di hari kedua — sesudah semalam raja tidak bisa tidur, sesudah Haman dipermalukan di jalan kota. Keberanian yang rohani bukan hanya soal berani bicara. Keberanian yang rohani juga tahu kapan.
Raja meledak: “Siapakah orang itu dan di manakah dia?”
Dan Ester menjawab dengan tiga patah kata yang mengubah segalanya: “Penganiaya dan musuh itu, ialah Haman, orang jahat ini!” Untuk pertama kalinya dalam seluruh kisah ini, nama itu disebut di ruangan yang tepat, kepada orang yang tepat, oleh orang yang punya hak untuk menyebutnya.
[jeda]
Tetapi tahan dulu. Jangan buru-buru bersorak untuk raja.
Raja marah — betul. Tapi mari kita jujur membaca ayat 8. Ketika ia kembali dari taman dan melihat Haman rebah di tempat duduk Ester untuk memohon nyawanya, apa yang keluar dari mulut raja? “Masih jugakah ia hendak menggagahi sang ratu, dalam rumahku sendiri?”
Perhatikan baik-baik. Sampai kalimat itu, raja tidak pernah menyesali surat pemusnahan yang ia setujui. Ia tidak berkata, “apa yang telah kuperbuat terhadap satu bangsa?” Kemarahannya menyala ketika ia merasa kehormatan pribadinya diinjak, di rumahnya sendiri, di depan matanya.
[pelan, tegas]
Jadi begini kesimpulan yang tidak enak itu: dalam pasal ini, Haman adalah penjahatnya, tetapi raja bukan orang benar. Raja hanya orang yang datang terlambat pada kebenarannya sendiri.
Dan saya kira, jemaat, di sinilah sebagian besar dari kita berdiri.
Kita jarang menjadi Haman. Sedikit sekali orang di ruangan ini yang bangun pagi lalu menyusun rencana untuk menghancurkan hidup orang lain. Tetapi berapa banyak dari kita yang menjadi Ahasyweros?
Menandatangani laporan tanpa membaca isinya, karena yang membawa map itu orang yang kita percaya. Menyetujui keputusan rapat karena semua orang sudah mengangkat tangan. Meneruskan pesan di grup WhatsApp tanpa memeriksa satu detik pun apakah itu benar, lalu berkata “saya cuma meneruskan”. Membiarkan uang jemaat, uang keluarga, uang kantor dikelola tanpa pernah bertanya sungguh-sungguh, karena bertanya itu tidak enak dan bisa dianggap tidak percaya.
Lalu ketika perkara itu meledak, kita bertanya dengan wajah paling terkejut di dunia: siapa yang berbuat begini?
[jeda panjang]
Cincin itu di jari kita sendiri.
Kebenaran yang terungkap tidak pernah hanya menyingkap satu orang. Ia menyingkap seluruh sistem yang membuat kejahatan itu mungkin: yang merancang, yang menyetujui, yang tanda tangan, yang tahu tapi tidak enak bicara, dan yang memilih tidak mau tahu supaya tidak perlu bertanggung jawab.
Sekarang masuk seorang tokoh yang hampir tidak pernah kita khotbahkan. Namanya Harbona. Ia bukan nabi, bukan pahlawan, bukan siapa-siapa dalam cerita ini — hanya seorang sida-sida, pegawai istana, orang yang berdiri di dekat pintu dan menuang anggur.
“Lagipula tiang yang dipersiapkan Haman untuk Mordekhai, yang menyelamatkan raja, sudah berdiri di dekat rumah Haman, lima puluh hasta tingginya.”Ester 7:9
Satu kalimat. Dari orang yang paling tidak diperhitungkan di ruangan itu. Dan satu kalimat itu yang menutup perkara.
Tetapi renungkan implikasinya. Harbona tahu. Ia tahu tiang itu ada. Ia tahu untuk siapa tiang itu dibuat. Dan ia tidak baru tahu lima menit yang lalu.
[naikkan tekanan]
Tiang itu lima puluh hasta. Dalam ukuran kita, kira-kira dua puluh dua meter — setinggi bangunan tujuh lantai. Berdiri di halaman rumah Haman, di ibu kota, di siang bolong. Itu bukan rahasia. Itu tidak pernah rahasia. Seluruh kota bisa melihatnya dari jauh.
Jadi masalahnya bukan bahwa kejahatan Haman tersembunyi. Masalahnya adalah tidak ada yang mau menyebutkannya.
Kita kenal betul pola itu, jemaat. Di kampung, di kantor, di sekolah, di gereja. Semua orang tahu ada yang tidak beres. Semua orang bicara — di belakang, di dapur, di parkiran, di grup kecil. Tetapi di ruangan tempat perkara itu bisa diselesaikan, semuanya diam. Kita menyimpan kebenaran seperti orang menyimpan barang di gudang: tahu ada di sana, tidak pernah dikeluarkan.
Harbona akhirnya membuka mulut. Kita boleh berdebat apakah motifnya murni atau ia sekadar pandai membaca arah angin. Teks tidak memberitahu kita. Tapi teks memberitahu satu hal: Allah yang namanya tidak disebut dalam kitab ini ternyata bisa memakai ingatan seorang pelayan istana untuk menegakkan keadilan.
Lalu kalimat raja: “Gantunglah dia pada tiang itu.”
Dan ayat 10 mencatatnya dengan sangat dingin: “Haman disulakan pada tiang yang didirikannya untuk Mordekhai.”
Alkitab sudah lama tahu hukum ini. Mazmur 7:16 berkata, orang yang menggali lubang jatuh ke dalam lubang yang dibuatnya sendiri. Amsal 26:27 mengatakan hal yang sama, dan menambahkan: batu yang digulingkan akan berbalik menimpa orang yang menggulingkannya.
Tiang itu tidak berpindah satu sentimeter pun. Yang berubah cuma siapa yang naik ke atasnya.
[berhenti. tarik napas. kalimat pendek-pendek mulai dari sini]
Haman membangun tiang itu supaya semua orang melihat.
Ia berhasil. Semua orang melihat.
Ia hanya salah menebak siapa yang akan digantung di sana.
[jeda]
Saudara, ini bukan cerita tentang orang jahat yang sial. Ini cerita tentang bagaimana dunia ini dijahit. Ada tenunan moral di dalam ciptaan yang tidak bisa dibatalkan oleh jabatan, tidak bisa dibeli dengan sepuluh ribu talenta perak, dan tidak bisa dikelabui oleh cincin meterai siapa pun.
Fitnah yang kita rawat diam-diam akan pulang. Laporan yang kita permak akan dibaca orang lain. Perselingkuhan yang kita kira aman punya tanggal kedaluwarsa. Tiang yang kita dirikan untuk menjatuhkan saudara kita — dengan sabar, malam demi malam, kalimat demi kalimat — sedang berdiri di halaman rumah kita sendiri. Setinggi dua puluh dua meter. Terlihat dari jauh.
[lebih hangat, turunkan volume]
Dan kalau khotbah ini berhenti di sini, kita semua pulang dengan ketakutan. Karena kalau standarnya adalah tiang yang pantas, tidak ada satu pun dari kita yang aman. Tidak saya. Tidak saudara.
Kitab Ester tidak berbicara tentang salib. Ester hidup ratusan tahun sebelum Kristus, dan kita tidak boleh memaksa teks ini mengatakan yang tidak dikatakannya.
Tetapi orang Kristen yang membaca Ester tidak bisa berhenti di Susan.
Karena Allah melakukan pembalikan itu sekali lagi — dan kali ini di atas kayu.
Sebuah alat penghukuman, dibuat oleh manusia untuk mempermalukan dan membunuh, dipasang di tempat tinggi supaya semua orang melihat. Persis seperti tiang Haman. Dan di atas kayu itu Allah membalikkan segalanya: yang dimaksudkan untuk mengakhiri, justru dipakai untuk menyelamatkan.
Bedanya cuma satu, dan bedanya itu yang membuat kita jadi orang Kristen.
[pelan sekali]
Di Susan, orang yang membangun tiang itu yang naik ke atasnya. Di Golgota, Yang naik ke atas kayu itu tidak pernah membangun apa-apa untuk menjatuhkan siapa pun.
Ia naik ke tiang yang seharusnya milik kita.
Bukan supaya kita jadi orang yang lebih baik secara umum. Empat hal ini bisa dikerjakan sebelum kita berkumpul lagi hari Minggu depan.
Ada pesan yang sudah saudara ketik tapi belum dikirim. Ada cerita yang sedang saudara siapkan untuk menjatuhkan seseorang di rapat berikutnya. Ada data yang sedang saudara simpan bukan untuk kebenaran, tapi untuk amunisi. Hapus. Hari ini, bukan nanti.
Laporan keuangan rayon, laporan kegiatan, kwitansi, keputusan rapat, surat yang saudara iyakan karena tidak enak bertanya. Ambil satu saja minggu ini. Baca sampai habis. Tanyakan yang tidak saudara mengerti. Ahasyweros bertanya sesudah terlambat.
Bukan di grup WhatsApp. Bukan ke tetangga. Ke ruangan tempat perkara itu bisa diselesaikan, kepada orang yang berwenang menyelesaikannya. Harbona hanya perlu satu kalimat.
Mungkin saudara yang difitnah. Saudara yang dituduh. Saudara yang tahu dirinya benar tapi tidak punya panggung untuk membuktikannya. Ester menunggu melewati dua jamuan. Mordekhai menunggu bertahun-tahun sebelum catatan lama itu dibacakan. Jangan bangun tiang balasan. Waktu Allah tidak pernah terlambat, meskipun sering terasa sangat lambat.
Kita mulai dengan pertanyaan raja: “Siapakah orang itu, dan di manakah dia?”
Raja bertanya karena ia tidak tahu.
[pelan, hangat]
Allah tidak pernah bertanya seperti itu. Dalam kitab yang tidak menyebut nama-Nya sekali pun, Ia sudah ada di sana — di malam yang tidak bisa tidur, di arsip yang berdebu, di keberanian seorang perempuan muda, di ingatan seorang pelayan istana yang akhirnya membuka mulut.
Ia tahu apa yang ada di halaman rumah kita. Ia tahu tinggi tiangnya.
Pertanyaannya bukan apakah kebenaran akan terungkap. Itu sudah pasti; air pasti pasang. Pertanyaannya adalah: apakah kita mau lebih dahulu berbicara — sebelum kita ditanya.
Ya Allah, yang tidak disebut namanya di Susan namun tidak pernah absen di sana,
Engkau tahu apa yang kami simpan. Engkau tahu tiang-tiang yang sedang kami dirikan diam-diam untuk orang-orang yang seharusnya kami kasihi. Bongkarlah itu sebelum ia menjadi ukuran atas hidup kami sendiri.
Beri kami keberanian Ester untuk berbicara pada waktunya, kejujuran untuk membaca apa yang kami tandatangani, dan mulut Harbona untuk menyebutkan satu kebenaran yang sudah terlalu lama kami diamkan.
Dan bagi mereka yang pagi ini sedang menunggu namanya dipulihkan — tolonglah mereka bertahan sampai air itu pasang.
Di dalam nama Yesus, yang naik ke kayu yang seharusnya milik kami. Amin.