Ibadah Minggu Jemaat · GKI Silo Entrop

Tetap Setia di Tengah Tekanan

Bacaan: Ester 3:1-15 Durasi: ± 10–15 menit
"Tetapi Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud... Setelah semua pegawai itu dari hari ke hari menegur dia dengan tidak berhasil... maka diberitahukanlah hal itu kepada Haman... Setelah Haman melihat, bahwa Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud kepadanya, sangat marahlah ia." (Ester 3:2, 4b-5)

Pembukaan

Pernahkah Saudara berada di satu ruangan di mana semua orang membungkuk, dan Saudara satu-satunya yang berdiri tegak?

Bukan soal sopan santun. Ini soal harga yang harus dibayar karena berbeda sendirian.

Ester pasal 3 dimulai dengan gambaran itu. Di gerbang istana Susan, semua pegawai raja membungkuk dan sujud setiap kali Haman lewat — itu perintah raja sendiri (ay. 2). Semua orang taat. Kecuali satu orang: Mordekhai.

[jeda]
Perikop ini kelihatannya cuma cerita politik istana kuno. Tapi di baliknya ada pertanyaan yang menuntut jawaban kita hari ini: apa yang Saudara lakukan ketika kesetiaan pada apa yang benar membuat Saudara berdiri sendirian — dan berisiko?

Masuk ke Dalam Teks

Kitab Ester ditulis untuk orang Yahudi yang hidup di perantauan, jauh dari Yerusalem, di bawah kekuasaan raja Ahasyweros. Mereka minoritas, tidak berdaya secara politik. Nasib mereka bisa berubah karena satu tanda tangan raja.

Ada satu hal yang khas dari kitab ini: nama Tuhan tidak pernah disebut secara eksplisit, dari pasal 1 sampai pasal 10. Tidak ada "TUHAN berfirman", tidak ada mujizat yang kelihatan mencolok. Justru dari situ kitab ini berbicara — bahwa Tuhan tetap bekerja bahkan ketika Dia kelihatan diam, bahkan di ruang-ruang kekuasaan yang tidak menyebut nama-Nya sama sekali.

Di pasal 3, Haman diangkat menjadi pejabat tertinggi kedua di kerajaan (ay. 1). Teks memberi satu detail yang gampang dilewati tapi sebenarnya kunci: Haman disebut "orang Agag" — keturunan Agag, raja bangsa Amalek (ay. 1, bnd. 1 Samuel 15). Amalek adalah musuh lama Israel, bangsa yang menyerang umat Tuhan waktu mereka baru keluar dari Mesir dalam keadaan lemah dan lelah (Keluaran 17:8-16). Permusuhan itu bukan cerita baru bagi Mordekhai. Ada sejarah panjang di balik lututnya yang tidak mau ditekuk.

§

Poin Pertama

Kesetiaan sering dimulai dari hal yang kelihatan kecil.

Ayat 2-4 menunjukkan pegawai-pegawai lain sudah menegur Mordekhai berkali-kali: "Mengapa engkau melanggar perintah raja?" (ay. 3). Mereka bukan bertanya sekali. Teks bilang mereka menegur dia "dari hari ke hari" (ay. 4). Bayangkan tekanan itu — bukan ancaman besar dari awal, tapi desakan pelan setiap hari dari orang-orang di sekitarnya sendiri.

[pelan, tegas]
Itulah bentuk tekanan yang paling sering kita hadapi. Bukan todongan senjata. Tapi desakan halus setiap hari dari lingkungan: "Semua orang juga begitu." "Ikut saja, tidak apa-apa." "Kenapa harus beda sendiri?"

Di pasar, ada pedagang yang setiap hari ditekan untuk mengurangi timbangan sedikit saja — toh pembeli tidak akan sadar, dan pedagang lain di sekitarnya melakukan hal yang sama. Di tempat kerja, ada pegawai yang diminta menutup mata pada satu kesalahan kecil dalam laporan — toh cuma sekali ini, toh atasan yang minta. Tekanan seperti itu jarang datang sebagai satu keputusan besar. Ia datang sebagai desakan harian, kecil, yang menumpuk pelan-pelan.

Mordekhai memilih untuk tidak bergerak. Bukan karena sombong atau cari sensasi — ayat 4 mencatat dia menjelaskan alasannya: dia orang Yahudi. Ini soal identitas dan keyakinan, bukan keras kepala yang kosong.

Poin Kedua

Ketika satu orang berdiri teguh, kemarahan yang ditimbulkan bisa jauh melebihi ukuran orangnya.

Ayat 5-6 adalah titik balik yang mengerikan. Haman marah — bukan cuma pada Mordekhai. Ayat 6 mencatat ia memandang terlalu rendah untuk hanya membalas satu orang. Maka ia merancang pemusnahan seluruh bangsa Yahudi di seluruh wilayah kerajaan Ahasyweros.

[jeda]
Baca itu sekali lagi. Satu orang menolak membungkuk. Jawabannya: rencana pemusnahan terhadap satu bangsa.

Ini bukan berlebihan dari teks — ini realitas tentang bagaimana dosa yang tidak dikendalikan bekerja. Kesombongan yang terluka tidak pernah puas dengan pembalasan yang setimpal. Ia mencari pembenaran sistemik untuk kebenciannya. Haman melempar undi — pur — untuk menentukan tanggal (ay. 7), lalu menghadap raja dengan tuduhan yang setengah benar dan tawaran suap sepuluh ribu talenta perak (ay. 8-9), jumlah yang menurut catatan Ester sendiri sangat besar. Raja, tanpa memeriksa lebih jauh, melepas cincin meterainya kepada Haman (ay. 10) — kekuasaan mutlak dipindahkan begitu saja, tanpa pertanyaan.

[lebih hangat]
Saudara, ini peringatan penting: kejahatan yang dibiarkan tumbuh tanpa dikoreksi tidak berhenti pada ukuran yang wajar. Ia mencari struktur, mencari kekuasaan, mencari legitimasi resmi. Dan seringnya, untuk sementara waktu, ia berhasil.

Poin Ketiga

Di tengah kekacauan yang direncanakan manusia, Tuhan tidak pernah benar-benar absen — walau Dia tidak terlihat sedang bekerja.

Perhatikan kontras di ayat terakhir pasal ini, ayat 15: setelah surat titah pemusnahan dikirim ke seluruh provinsi, "raja dan Haman duduk minum-minum, tetapi kota Susan gempar." Kegemparan itu kata yang sama dipakai untuk kekacauan besar. Sementara dua orang yang punya kuasa untuk menghentikannya justru duduk santai minum anggur.

[jeda]
Itulah wajah kekuasaan yang tidak peduli: tenang di atas, gempar di bawah.

Tapi kalau Saudara membaca lanjutan kitab ini di pasal 4 dan 5, Saudara tahu ceritanya belum selesai di sini. Ester — perempuan Yahudi yang justru sudah jadi ratu sejak pasal 2, tanpa seorang pun waktu itu tahu untuk apa — berada di posisi yang tak terduga. Tuhan tidak disebut namanya sepanjang kitab ini, tapi pola yang tersusun rapi ini — Mordekhai yang tepat waktu menyelamatkan raja, Ester yang tepat waktu menjadi ratu, semua sebelum krisis ini pecah — bukan kebetulan yang ditulis begitu saja oleh penulis kitab ini.

Gagasan Inti Kesetiaan sejati bukan menunggu jaminan hasil dulu baru berani berdiri — ia berdiri karena itu benar, bahkan sebelum tahu bagaimana ceritanya akan berakhir.

Klimaks

Kesetiaan Mordekhai di ayat 2 sampai 4, waktu dia menolak membungkuk sendirian, kelihatannya seperti tindakan kecil yang sia-sia — bahkan berbahaya, karena mengundang murka yang mengancam seluruh bangsanya. Tapi Tuhan sudah menyiapkan jalan keluar jauh sebelum krisis itu datang, lewat kesetiaan-kesetiaan kecil yang tampaknya sendirian.

[pelan, tegas]
Saudara mungkin sedang berdiri sendirian sekarang. Di tempat kerja, di keluarga, di tengah komunitas yang menekan Saudara untuk ikut arus. Saudara tidak tahu bagaimana caranya ini akan berakhir baik. Mordekhai juga tidak tahu. Dia hanya tahu satu hal: dia tidak akan menekuk lutut pada apa yang bertentangan dengan siapa dirinya di hadapan Tuhan.

Aplikasi

Minggu ini, saya mengajak Saudara memeriksa satu hal konkret: di titik mana dalam hidup Saudara sekarang ada tekanan harian, kecil, berulang, untuk ikut saja dengan apa yang Saudara tahu salah — supaya lebih aman, lebih diterima, lebih mudah?

Itu bisa di meja kerja Saudara, di grup keluarga, atau di cara Saudara membesarkan anak ketika lingkungan sekitar membesarkan anaknya dengan cara yang berbeda dari nilai-nilai yang Saudara pegang.

Saudara tidak perlu tahu bagaimana semuanya akan berakhir. Mordekhai juga tidak tahu, waktu dia berdiri tegak di gerbang istana itu. Yang dia tahu hanya: hari ini, dia tidak akan menekuk lutut pada apa yang salah.

Penutup

Ada satu ruangan di mana semua orang membungkuk, dan Saudara mungkin satu-satunya yang berdiri tegak minggu ini. Saya tidak bisa menjanjikan itu akan mudah. Tapi Tuhan yang bekerja diam-diam di balik kitab Ester — yang tidak pernah disebut nama-Nya, tapi tidak pernah absen — adalah Tuhan yang sama yang bekerja di balik kesetiaan Saudara hari ini, bahkan waktu Saudara belum melihat bagaimana caranya.

Bapa, kami mengaku hari-hari ini penuh tekanan untuk ikut arus, untuk menekuk lutut pada hal-hal yang bertentangan dengan Firman-Mu, supaya hidup kami lebih mudah dan aman. Berikan kami keberanian Mordekhai untuk berdiri teguh, bahkan waktu kami sendirian dan tidak tahu bagaimana akhirnya. Ingatkan kami bahwa Engkau tidak pernah absen, walau Engkau kelihatan diam. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.