Ibadah Minggu · Naskah khotbah · ±10 menit

Dua Puluh
Langkah

1 Yohanes 3:11–18
Gagasan utama Kristus ditanya tentang nyawa-Nya, dan Ia memberikannya. Kita ditanya tentang barang kita — dan di situ kasih kita ketahuan.
Pembuka

Coba bayangkan dua rumah di satu lorong. Satu RT. Satu jemaat. Sore hari, dari dapur yang satu naik asap; dari dapur sebelah tidak ada apa-apa. Sudah dua hari.

Yang punya dapur berasap itu tahu. Dia bukan orang jahat. Dia tidak benci tetangganya. Malam itu dia bahkan berdoa untuk keluarga sebelah, dengan sungguh-sungguh.

Tapi dia tidak berjalan ke sana. jeda Jaraknya dua puluh langkah.

Surat Yohanes yang kita baca pagi ini ditulis persis untuk jarak dua puluh langkah itu.

Dunia teks

Surat ini lahir dari jemaat yang baru saja pecah. Di pasal 2 Yohanes menulis bahwa sekelompok orang telah keluar dari persekutuan itu — dan mereka pergi sambil merasa lebih rohani, lebih tahu, lebih dekat dengan Allah.

Bayangkan yang tinggal. Bangku-bangku kosong. Pertanyaan yang menggantung: jangan-jangan yang benar itu mereka, bukan kita?

Ke dalam kebingungan itulah Yohanes menulis. Dan jawabannya mengejutkan. Dia tidak menyodorkan rumus teologis yang rumit. Dia mengembalikan mereka ke pesan paling awal yang pernah mereka dengar: hendaklah kita saling mengasihi — gema langsung dari perintah Yesus pada malam terakhir sebelum Ia disalibkan.

Bagi pembaca pertama, artinya begini: kartu anggota keluarga Allah tidak dibuktikan oleh siapa yang paling fasih bicara rohani, melainkan oleh caramu memperlakukan orang yang duduk di sebelahmu.

Bagian I — Kain

Lalu Yohanes menyebut satu nama dari Perjanjian Lama. Cuma satu di seluruh suratnya. Bukan Musa. Bukan Abraham. pelan Kain.

Perhatikan di mana pembunuhan pertama dalam Alkitab terjadi. Bukan antara bangsa dengan bangsa. Bukan di medan perang. Tapi antara dua bersaudara, sepulang dari membawa persembahan.

Kebencian tidak pernah lahir di tempat yang jauh. Ia lahir di rumah. Di antara orang yang sama-sama beribadah.

Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh.1 Yohanes 3:15

Yohanes tidak sedang melebih-lebihkan. Dia sedang menelusuri ke belakang. Setiap pembunuhan pernah menjadi benih kecil dulu — rasa dingin waktu berpapasan, nama yang sengaja tidak disebut, sedikit senang waktu dia gagal. tegas Yohanes memanggil benih itu dengan nama buahnya.

Di jemaat kita, kebencian jarang berwujud kekerasan. Bentuknya jauh lebih sopan. Kursi yang digeser sedikit. Undangan yang lupa disampaikan. Kalimat yang kita ulang-ulang: "Saya tidak benci dia. Saya cuma tidak dekat."

Kita punya kata yang indah untuk melawan itu: kitong basodara. Kita ucapkan di rapat, di pesta, di ibadah. Tapi kata itu tidak pernah diuji waktu diucapkan. Kata itu diuji waktu pembagian.

Di banyak tempat di tanah ini, pada bakar batu, yang paling penting sebenarnya bukan babi atau ubinya. Yang paling penting adalah supaya waktu makanan dibagi, tidak ada satu pun yang terlewat pulang dengan tangan kosong. Kalau ada yang terlewat, bukan cuma dia yang rugi — persekutuannya yang rusak.

jeda Kain gagal justru di titik itu. Bukan di mimbar. Di pembagian.

· · ·
Bagian II — Salib

Kalau begitu, apa ukuran kasih yang benar? Di sinilah Yohanes melakukan sesuatu yang penting: dia tidak membiarkan kita mengarang sendiri arti kata "kasih".

Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita.1 Yohanes 3:16

Dunia mengajari kita bahwa kasih itu perasaan. Kalau perasaannya ada, berarti kasihnya ada. Teks ini mengajari kita hal lain: kasih itu penyerahan. Ukurannya bukan seberapa dalam kita merasa, melainkan seberapa banyak kita melepaskan.

Dan Kristus tidak melepaskan kelebihan-Nya. Ia melepaskan nyawa-Nya.

Ini yang membuat iman kita berbeda dari sekadar ajaran moral. Kita tidak sedang disuruh mengasihi supaya Allah mau menerima kita. Urutannya terbalik: Allah sudah lebih dulu menyerahkan diri-Nya bagi kita waktu kita belum pantas sama sekali, dan dari sanalah kasih kita mengalir.

Karena itu Yohanes menulis: kita pun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Kedengarannya besar sekali. Kedengarannya seperti panggilan untuk mati syahid, sesuatu yang jauh dan heroik. jeda Lalu ayat berikutnya membuat semuanya jadi sangat dekat, dan sangat tidak nyaman.

Puncak — ayat 17

Yohanes bisa saja berhenti di ayat 16. Itu ayat yang mulia. Ayat yang aman. Ayat yang bisa kita amini sambil mengangguk, lalu pulang tanpa berubah satu sentimeter pun.

Tapi ayat 17 datang. Dan ayat 17 turun dari salib, masuk ke dapur.

Yohanes bertanya tentang orang yang punya harta, yang melihat saudaranya kekurangan, lalu menutup pintu hatinya. jeda

Perhatikan pergeserannya. Di ayat 16, yang diserahkan Kristus adalah nyawa. Di ayat 17, yang ditanyakan kepada kita adalah harta — dalam bahasa aslinya, kata itu berarti "penghidupan": barang-barang yang kita pakai untuk hidup sehari-hari.

pelan, tegas Kristus ditanya soal nyawa. Kita ditanya soal beras.

Dan justru di situ kita macet.

Kita sanggup menyanyi "seluruh hidupku". Kita sanggup berdoa, "pakai saya, Tuhan, ke mana pun." Kita macet pada satu karung beras yang tinggal diantar dua puluh langkah.

· · ·

Lalu Yohanes menutup ayat itu dengan sebuah pertanyaan:

bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?1 Yohanes 3:17

Dia tidak menjawabnya. Dia membiarkannya menggantung. Karena pertanyaan seperti ini memang tidak dijawab oleh mulut. tegas Pertanyaan ini dijawab oleh tangan.

Respons

Maka ayat 18 bukan lagi nasihat manis. Itu kesimpulan yang tidak bisa dihindari: mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.

"Dalam kebenaran" itu penting. Artinya menolong tanpa dipamerkan, dan tanpa membuat orang yang ditolong berutang budi seumur hidup. Kasih yang benar menjaga harga diri orang yang dikasihi.

Tiga hal yang bisa dikerjakan minggu ini — bukan seumur hidup, minggu ini:

  1. Sebut satu nama. Bukan "orang miskin" secara umum. Ayat 17 bilang: melihat saudaranya. Satu orang yang wajahnya kamu kenal, yang kekurangannya kamu tahu.
  2. Tentukan satu perbuatan yang selesai sebelum Minggu depan. Beras, uang sekolah, tumpangan ke rumah sakit, satu jam mendengarkan. Kecil tidak apa-apa — asal selesai, bukan direncanakan terus.
  3. Kerjakan diam-diam. Tidak difoto, tidak diceritakan di grup. Kalau tangan kanan sudah lapor ke tangan kiri, upahnya sudah habis di situ.

Dan mulailah dari yang paling dekat: meja makan sendiri, adik sendiri, saudara semarga sendiri, orang satu pelayanan yang sudah lama tidak kita sapa. Kasih yang tidak jalan di rumah biasanya tidak akan jalan di gereja.

Penutup

Satu hal terakhir, supaya kita pulang dengan lega dan bukan dengan beban.

Di ayat 14 Yohanes menulis bahwa kita tahu kita telah berpindah dari maut ke hidup, karena kita mengasihi saudara kita. lebih hangat Perhatikan baik-baik: kasih itu bukan cara kita berpindah. Kasih itu tanda bahwa kita sudah dipindahkan.

Kita tidak sedang membeli hidup dengan sekarung beras. Kita sedang membuktikan bahwa hidup itu memang sudah ada di dalam kita. Seperti denyut nadi: denyut tidak membuat orang hidup — denyut menunjukkan bahwa orang itu hidup.

Jadi pertanyaannya pagi ini sederhana. Bukan seberapa keras kita bernyanyi tadi. Bukan seberapa panjang doa kita nanti.

pelan Dua puluh langkah itu. Kapan kita berjalan?

Doa

Tuhan Yesus, Engkau tidak mengasihi kami dengan kata-kata. Engkau menyerahkan nyawa-Mu. Ampuni kami yang fasih menyanyikan kasih tetapi menutup pintu bagi saudara yang kekurangan. Buka mata kami untuk satu orang minggu ini, dan berikan kami keberanian untuk berjalan dua puluh langkah itu. Dalam nama Yesus, Amin.

Bahan diskusi kelompok

Pertanyaan Diskusi

  1. Apa yang Yohanes katakan tentang orang yang punya harta tetapi tidak mau menolong saudaranya yang kekurangan?
  2. Apa maksudnya mengasihi dengan perbuatan dan dalam kebenaran?
  3. Mengapa mengasihi sesama menunjukkan bahwa kita hidup dalam Kristus?
  4. Apa yang dapat kita lakukan untuk saling mengasihi dalam keluarga dan gereja?