Khotbah Minggu · ±10 Menit

Terang yang Kelihatan di Meja Makan

Tema: Perintah yang Baru

1 Yohanes 2:7–17 Metode Harvard

[hangat, langsung] Selamat pagi, Saudara-saudari yang saya kasihi.

Saya mau mulai dengan satu pertanyaan sederhana, dan saya minta Saudara jujur menjawabnya dalam hati saja, tidak perlu diucapkan. [jeda]

Sudah berapa lama sejak Saudara benar-benar duduk semeja, makan bersama, dengan orang yang pernah menyakiti hati Saudara paling dalam? [jeda panjang]

Bukan basa-basi sapa di jalan. Bukan senyum yang dipaksakan waktu ketemu di gereja. Tapi betul-betul duduk, bicara, makan bersama dia — seperti dulu, sebelum semuanya rusak.

Kalau susah menjawab, Saudara tidak sendirian. Dan surat yang baru kita dengar dibacakan tadi, 1 Yohanes 2:7–17, ditulis justru untuk orang-orang seperti kita.

[lebih tenang, menjelaskan] Surat 1 Yohanes ini ditulis oleh rasul Yohanes kepada jemaat-jemaat yang sedang goyah. Ada sekelompok orang yang baru saja meninggalkan jemaat mereka — bukan orang luar, tapi orang dalam sendiri. Mereka pergi sambil mengklaim punya pengetahuan rohani yang lebih tinggi, hubungan yang lebih dekat dengan Allah, pencerahan yang lebih terang dibanding jemaat yang mereka tinggalkan.

Yohanes menulis surat ini untuk menjawab satu pertanyaan yang sangat praktis: bagaimana kita tahu siapa yang betul-betul ada di dalam terang, dan siapa yang cuma mengaku-ngaku?

Jawabannya, di ayat 7 sampai 17 yang baru kita dengar, sama sekali tidak menyangkut seberapa dalam pengetahuan rohani seseorang, atau seberapa fasih dia bicara tentang Allah. Jawabannya satu kata: kasih.

[jeda] Yohanes menulis sesuatu yang di permukaan terdengar aneh. Dia bilang, ia menulis bukan perintah baru, tapi perintah lama yang sudah ada pada mereka sejak semula (ay. 7). Lalu di ayat berikutnya dia bilang, sebetulnya ini juga perintah baru (ay. 8). Lama sekaligus baru — bagaimana bisa?

Lama, karena perintah mengasihi sesama bukan ajaran baru yang tiba-tiba diciptakan Yohanes. Itu sudah ada di hukum Taurat, jauh sebelum Yesus lahir — kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Yesus sendiri, waktu masih bersama murid-murid-Nya, menegaskan ulang perintah itu.

[lebih hangat] Ini seperti nilai yang Saudara warisi dari orang tua dan kakek nenek. Di kampung-kampung sekitar Danau Sentani atau Teluk Youtefa, aturan hidup bersama, musyawarah lewat para ondoafi kalau ada sengketa tanah atau hak tangkap ikan, gotong royong kalau ada yang berduka atau membangun rumah — itu semua bukan hal baru. Itu warisan. Yang dituntut bukan menciptakan nilai baru, tapi menghidupi yang sudah diwariskan.

Begitu juga kasih kepada saudara seiman. Itu bukan ide segar yang baru saja Saudara dengar hari ini. Kita tidak bisa bilang, "belum waktunya," atau "saya belum siap." Perintah ini sudah lama menunggu dijalankan.

[jeda, transisi] Tapi Yohanes juga bilang ini perintah baru. Bukan baru karena isinya berubah, tapi baru karena momennya berubah. Dia menulis, kegelapan sedang lewat dan terang yang benar sudah bercahaya (ay. 8). Dengan kedatangan Kristus, sesuatu sudah mulai berubah secara nyata. Perintah lama itu sekarang punya kekuatan baru untuk benar-benar dijalankan, bukan cuma dihafal.

Di sinilah Yohanes memberi ujian yang tajam, di ayat 9 sampai 11: orang yang berkata ada di dalam terang tapi membenci saudaranya, sebenarnya masih ada dalam kegelapan sampai sekarang. Sebaliknya, orang yang mengasihi saudaranya, dia tinggal di dalam terang. Tapi orang yang membenci saudaranya, kata Yohanes, dia berjalan dalam kegelapan, tidak tahu ke mana dia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya.

[pelan, tegas] Perhatikan itu baik-baik. Yohanes tidak bilang orang yang membenci saudaranya akan masuk kegelapan nanti. Dia bilang orang itu sedang berjalan dalam gelap sekarang — dan tidak sadar dia sudah tersesat.

Coba bayangkan Saudara naik perahu di Danau Sentani, atau berjalan kaki di sekitar Teluk Youtefa, waktu gelap betul sebelum fajar. Sehebat apa pun Saudara kenal jalur itu sejak kecil, kalau Saudara memaksa jalan tanpa cahaya, Saudara akan tersandung akar, salah arah, bisa jatuh ke air. Kenal medan saja tidak cukup kalau tidak ada terang.

Begitu juga kebencian yang kita simpan terhadap saudara seiman. Sehebat apa pun pengetahuan Alkitab kita, serajin apa pun kita datang ibadah — kalau hati kita masih membenci seseorang, kita sedang berjalan dalam gelap, dan kita sendiri tidak sadar sudah tersandung.

[lebih hangat, meneguhkan] Sebelum lanjut, Yohanes berhenti sebentar di ayat 12 sampai 14 untuk meneguhkan jemaatnya — anak-anak, para bapak, orang-orang muda — bahwa dosa mereka sudah diampuni, mereka sudah mengenal Allah, mereka sudah menang atas si jahat. Ini bukan basa-basi. Yohanes mau jemaatnya berjalan dalam kasih bukan karena takut dihukum, tapi karena mereka sudah diberi identitas baru dalam Kristus.

[jeda, transisi] Lalu di ayat 15 sampai 17, Yohanes menaruh satu peringatan yang menantang: jangan mengasihi dunia. Bukan dunia dalam arti bumi ciptaan Allah, tapi dunia sebagai sistem nilai yang menawarkan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup — segala sesuatu yang membuat kita mengutamakan kepentingan sendiri di atas hubungan dengan sesama.

Coba pikirkan Pasar Hamadi pagi hari. Ada tawar-menawar, ada kejar untung, kadang ada yang saling sikut demi pembeli yang sama. Itu wajar sebagai bagian hidup pasar. Tapi Yohanes mengingatkan: untung hari itu akan berlalu, barang dagangan akan habis — tapi hubungan yang Saudara bangun dengan sesama pedagang, dengan tetangga lapak, dengan pembeli langganan, itu yang punya nilai kekal kalau dijalani dengan kasih, bukan cuma kalkulasi untung rugi.

Dunia dan keinginannya akan lenyap, kata Yohanes, tapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya (ay. 17). Mengasihi saudara adalah salah satu bentuk paling konkret dari melakukan kehendak Allah itu.

[jeda panjang, pelan, tegas]

Terang itu tidak dibuktikan dengan seberapa fasih Saudara mengutip ayat. Tidak dibuktikan dengan seberapa lantang Saudara berdoa di depan umum.

Terang itu dibuktikan pada satu momen yang jauh lebih sederhana, dan jauh lebih sulit: waktu Saudara mau duduk lagi, semeja, dengan orang yang paling sulit Saudara kasihi.

Langkah Minggu Ini

[hangat, mengajak] Saya tidak minta Saudara menyelesaikan semua konflik minggu ini. Yohanes juga tidak minta itu. Tapi saya minta satu langkah kecil dan konkret, sebelum Minggu depan: sebutkan dalam hati satu nama — satu orang yang hubungan Saudara dengan dia sedang retak. Lalu ambil satu langkah nyata: telepon dia, kirim pesan, atau kalau memungkinkan, datangi rumahnya dan duduk sebentar saja. Tidak harus langsung selesai semua masalah. Cukup satu langkah, keluar dari gelap menuju terang.

[jeda, kembali ke pembuka, pelan] Tadi saya tanya, sudah berapa lama sejak Saudara duduk semeja dengan orang yang menyakiti hati Saudara. Saya tidak tahu jawaban Saudara. Tapi saya tahu ini: terang Kristus sudah mulai bercahaya, dan kegelapan sedang berlalu. Perintah ini sudah lama menunggu kita — dan sekarang, saatnya baru untuk menjalankannya.

Doa Penutup

Bapa yang penuh terang, Engkau sudah mengasihi kami lebih dahulu, jauh sebelum kami layak dikasihi. Ampuni kami kalau selama ini kami merasa cukup dengan pengetahuan tentang-Mu, tapi lupa menghidupi kasih kepada saudara yang Kau taruh di sekitar kami. Tolong kami mengingat satu nama yang tadi muncul dalam hati, dan beri kami keberanian mengambil langkah kecil minggu ini. Biarlah terang-Mu yang sudah bercahaya dalam hidup kami ini benar-benar kelihatan lewat cara kami mengasihi. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa, Amin.