Khotbah Minggu · ±10 Menit

Melihat Reruntuhan Sebelum Mengajak Membangun

Tema: Memulai Sebuah Pekerjaan dari Tuhan

Nehemia 2:11–20 Metode Harvard

[hangat, langsung] Selamat pagi, Saudara-saudari yang saya kasihi.

Saya mau mulai dengan satu pengakuan jujur. [jeda] Ada satu pola yang sering kita ulangi ketika merasa Tuhan menaruh sebuah beban di hati kita untuk mengerjakan sesuatu: kita langsung bersemangat, langsung umumkan ke semua orang, langsung minta dukungan — sebelum kita betul-betul tahu seberapa besar pekerjaan itu, dan apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Lalu ketika kenyataan di lapangan ternyata lebih berat dari yang kita bayangkan, semangat itu kempis, dan orang-orang yang tadinya kita ajak jadi kecewa.

Nehemia, dalam pasal 2 ayat 11 sampai 20 yang baru kita dengar, melakukan hal yang sebaliknya. [jeda] Dan caranya memulai pekerjaan Tuhan ini layak kita perhatikan baik-baik.

[lebih tenang, menjelaskan] Nehemia adalah juru minuman raja Persia, Artahsasta — jabatan yang terhormat dan dekat dengan kekuasaan. Beberapa bulan sebelum pasal ini, ia mendengar kabar dari saudaranya: tembok Yerusalem masih runtuh, pintu-pintu gerbangnya masih habis terbakar, puluhan tahun setelah sebagian orang buangan kembali ke sana.

Nehemia menangis, berpuasa, dan berdoa — bukan sehari dua hari, tapi berbulan-bulan (pasal 1). Baru setelah itu ia berani berbicara kepada raja, dan Allah memberinya kemurahan hati raja: izin pergi, surat kuasa, kayu untuk membangun. Ia berangkat ke Yerusalem, dikawal pasukan berkuda.

Sampai di sinilah pasal 2 ayat 11 dimulai. Dan yang menarik, setelah persiapan panjang dan doa berbulan-bulan itu, Nehemia tidak langsung bertindak.

[jeda] Ayat 11: sesampainya di Yerusalem, ia tinggal di sana tiga hari — tanpa melakukan apa-apa yang tercatat. Lalu, di malam hari, ia bangun bersama beberapa orang saja, tanpa memberitahu siapa pun apa yang telah Allah taruh dalam hatinya untuk dikerjakan (ay. 12).

Ia menyusuri reruntuhan tembok di kegelapan malam — lewat Pintu Gerbang Lebak, melewati Pintu Gerbang Sampah, sampai ke Pintu Gerbang Mata Air. Ayat 14 mencatat sesuatu yang jujur dan tidak nyaman: di satu titik, keledai yang ia tunggangi tidak bisa lewat, karena reruntuhan puing terlalu tinggi menghalangi jalan.

[pelan, tegas] Nehemia tidak menyamarkan kerusakan itu. Ia tidak berkata dalam hati, "ah, tidak terlalu parah, pasti bisa cepat." Ia turun dari keledainya, dan berjalan kaki menyusuri sisa tembok, memeriksa sendiri seberapa dalam kehancurannya.

Ayat 16 menutup bagian ini dengan catatan penting: para penguasa, imam-imam, orang-orang terkemuka, dan pekerja-pekerja lain — belum tahu ke mana ia pergi atau apa yang sedang ia kerjakan.

[lebih hangat] Ini seperti seorang tua-tua kampung yang mendengar rencana membangun jembatan penyeberangan, atau memperbaiki jalan menuju kebun. Sebelum mengumpulkan warga dan membagi tugas gotong royong, ia pergi sendiri dulu menyusuri jalur itu — menghitung berapa batang kayu yang sungguh dibutuhkan, seberapa dalam jurang yang harus ditutup, bagian mana yang paling rawan longsor. Bukan supaya dia bisa kerja sendirian, tapi supaya ajakannya nanti kepada warga bukan sekadar semangat kosong, melainkan ajakan yang sudah teruji oleh kenyataan di lapangan.

Pekerjaan Tuhan yang sungguh-sungguh dimulai dengan kejujuran menghadapi kerusakan sebenarnya, bukan dengan optimisme yang belum teruji.

[jeda, transisi] Baru setelah peninjauan itu selesai, Nehemia berbicara kepada orang banyak. Dan perhatikan cara ia membuka pembicaraan di ayat 17: "Kamu melihat sendiri kesengsaraan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan, dan pintu-pintu gerbangnya habis terbakar. Marilah kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi menjadi buah cemoohan."

Ia tidak menyembunyikan situasi buruk itu untuk menjaga semangat orang. Ia menamai persoalan itu apa adanya, karena mereka semua sudah hidup di dalamnya bertahun-tahun.

Lalu di ayat 18, ia menceritakan dua hal sekaligus kepada mereka: tangan Allahnya yang baik yang menyertai dia, dan juga perkataan raja yang telah diucapkan kepadanya. Bukti rohani dan bukti nyata di tangan — keduanya disebut bersamaan.

[lebih hangat] Hasilnya luar biasa: "Kami akan bangkit dan membangun!" kata mereka. Dan mereka pun menguatkan tangan mereka untuk pekerjaan yang baik itu.

Orang-orang tidak digerakkan karena Nehemia pandai berpidato atau punya jabatan tinggi di istana. Mereka digerakkan karena ia menunjukkan bukti bahwa Tuhan sendiri sedang bergerak melalui jalan-jalan yang konkret — surat kuasa, kayu, perlindungan perjalanan. Ajakan yang jujur, disertai bukti nyata pemeliharaan Tuhan, jauh lebih kuat daripada ajakan yang hanya bermodalkan semangat pribadi.

[jeda, transisi] Begitu pekerjaan mulai bergerak, muncul suara sumbang. Sanbalat, Tobia, dan Gesyem — tiga tokoh berpengaruh di sekitar wilayah itu — mendengarnya, lalu mengejek dan meremehkan mereka, bahkan menuduh mereka sedang memberontak melawan raja (ay. 19).

Ini bukan kritik membangun. Ini serangan terhadap legitimasi mereka — seolah pekerjaan baik yang baru dimulai ini sebenarnya berbahaya dan tidak sah.

[pelan, tegas] Perhatikan jawaban Nehemia di ayat 20. Ia tidak berdebat panjang membela diri, tidak mencari pengakuan dari Sanbalat dan kawan-kawannya. Ia hanya berkata: "Allah semesta langit, Dialah yang membuat kami berhasil. Kami, hamba-hamba-Nya, akan bangkit dan membangun. Tetapi kamu tidak mempunyai bagian, hak, atau tanda peringatan apa pun di Yerusalem."

Satu kalimat teologis singkat, lalu ia kembali bekerja. Ia tidak butuh Sanbalat setuju untuk yakin bahwa pekerjaan itu benar dari Tuhan.

Setiap kali sebuah komunitas mulai mengerjakan sesuatu yang baik — membangun gedung gereja, memulai pelayanan baru, merintis usaha bersama — hampir pasti akan ada suara yang meragukan, mempertanyakan kemampuan, bahkan mempertanyakan motif. Jalan Nehemia bukan berdebat mencari validasi mereka, tapi kembali berpijak pada keyakinan bahwa Allah semesta langit yang membuat berhasil.

[jeda panjang, pelan, tegas]

Nehemia tidak mulai dengan mengumumkan. Ia mulai dengan berjalan sendiri di reruntuhan yang gelap, sebelum berani mengajak orang lain berjalan bersamanya di terang hari.

Pekerjaan yang sungguh dari Tuhan tidak butuh sorotan lebih dulu — ia butuh kejujuran lebih dulu.

Langkah Minggu Ini

[hangat, mengajak] Ada sesuatu yang mungkin sudah lama Tuhan taruh di hati Saudara untuk dikerjakan — bagi keluarga, bagi lingkungan, bagi jemaat. Sebelum Saudara mengumumkannya kepada siapa pun minggu ini, ambil waktu seperti Nehemia: tinjau dulu kenyataannya dengan jujur. Tuliskan apa yang sebenarnya dibutuhkan, seberapa besar persoalannya, dan doakan secara khusus. Baru setelah itu, ajak satu atau dua orang lain — dengan cerita jujur tentang keadaannya, dan kesaksian tentang bagaimana Tuhan sudah menolong sejauh ini.

[jeda, pelan] Kalau minggu ini Saudara mendengar suara yang meragukan langkah Saudara, ingatlah jawaban Nehemia: kita tidak butuh mereka setuju. Kita butuh Allah semesta langit, yang akan membuat kita berhasil.

Doa Penutup

Tuhan, Allah semesta langit, ampuni kami kalau selama ini kami lebih suka mengumumkan rencana daripada menghadapi kenyataan dengan jujur di hadapan-Mu. Ajar kami seperti Nehemia — berani melihat reruntuhan apa adanya, sabar meninjau sebelum bertindak, dan berani mengajak orang lain dengan kesaksian tentang tangan-Mu yang baik, bukan dengan kata-kata kosong. Kalau minggu ini kami menghadapi suara yang meremehkan langkah kami, teguhkan hati kami untuk tetap bangkit dan bekerja, karena Engkaulah yang membuat kami berhasil. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa, Amin.