Sion Kota Damai

Khotbah Ibadah Minggu · Yesaya 2:1–5

Bacaan: Yesaya 2:1–5

Bacaan pendukung: Yesaya 1:21; Mikha 4:1–4; Yohanes 12:32; Efesus 2:14

Sion menjadi kota damai bukan karena temboknya tinggi, tetapi karena di sana orang mau diajar jalan Tuhan. Dan damai itu dimulai ketika kita berjalan dalam terang-Nya hari ini.

± 9 menit dibawakan

PembukaDamai di atas spanduk

Kita sudah sering melihat kata “damai.” Di spanduk. Di baliho. Di kaos acara. “Papua Tanah Damai.” Kata itu indah. Tetapi jujur saja, kadang kita sudah lelah dengan kata itu. Karena spanduknya terpasang, sementara di rumah sebelah masih ada teriakan. Di kampung masih ada dendam. Di grup WhatsApp jemaat masih ada perang kata-kata. jeda

Lalu kita bertanya dalam hati: damai itu sungguh ada, atau hanya kata di atas kain?

Masuk ke dalam teksPenglihatan di tengah kota yang rusak

Nabi Yesaya hidup di Yerusalem sekitar abad kedelapan sebelum Masehi. Dan Yerusalem pada zamannya jauh dari damai. Baca pasal 1. Pemimpinnya menerima suap. Janda dan anak yatim tidak dibela. Ibadahnya ramai, tetapi tangan mereka, kata Tuhan, penuh darah. Yesaya bahkan meratap: kota yang dulu setia sudah menjadi sundal (1:21).

Di tengah kota seperti itulah, Yesaya menerima firman yang ia lihat (ay. 1). Ia melihat masa depan:

“Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung.”Yesaya 2:2

Penglihatan yang sama juga dicatat oleh nabi Mikha (Mikha 4:1–4). Dua nabi, satu harapan. Dan perhatikan letaknya: penglihatan ini diapit oleh teguran keras di pasal 1 dan hukuman di sisa pasal 2. pelan Artinya, Tuhan memberi gambaran Sion kota damai justru kepada umat yang sedang tidak damai. Bukan sebagai pujian, tetapi sebagai panggilan pulang.

Dari penglihatan itu, ada tiga hal yang membuat Sion menjadi kota damai.

PertamaDamai tumbuh dari tempat Tuhan ditinggikan

Secara geografis, bukit Sion bukan gunung yang tinggi. Bukit Zaitun di sebelahnya saja lebih tinggi. Tetapi Yesaya melihat gunung itu terangkat melebihi semua bukit. Ini bukan soal ketinggian tanah. Ini soal siapa yang ditinggikan di sana.

Lalu ada gambaran yang aneh: semua bangsa berduyun-duyun ke sana. Kata Ibrani yang dipakai di sini sekeluarga dengan kata “sungai.” Bangsa-bangsa mengalir seperti sungai. Tetapi sungai mana yang mengalir naik ke gunung? jeda Air selalu turun. Orang di Jayapura tahu itu: hujan di Cycloop turun ke kali, lalu ke laut.

Di sini, bangsa-bangsa mengalir ke atas. Artinya, damai tidak lahir dari arus alami manusia. Arus alami kita turun: ke dendam, ke kepentingan sendiri, ke kelompok sendiri. Damai hanya terjadi ketika ada tarikan yang lebih kuat. Ketika Tuhan sungguh ditinggikan, manusia ditarik naik.

Ini juga berlaku untuk jemaat. Sebuah jemaat bisa punya gedung megah, paduan suara bagus, dan kas yang penuh, tetapi tetap tidak damai. Mengapa? Karena yang ditinggikan bukan Tuhan, melainkan kelompok, jabatan, atau gengsi. Selama yang ditinggikan adalah “kami,” bangsa-bangsa tidak akan pernah mengalir naik. Mereka hanya akan melihat satu kelompok lagi yang berebut tempat.

KeduaDamai lahir dari orang yang mau diajar

Dengar apa yang dikatakan bangsa-bangsa itu (ay. 3). Mereka tidak berkata, “Mari kita ke Sion untuk berdagang,” atau “untuk berfoto.” Mereka berkata: “supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya.”

Lalu di ayat 4 ada kalimat yang sangat tajam: mereka “tidak akan lagi belajar perang.” tegas Perang itu dipelajari. Tidak ada bayi yang lahir dengan dendam. Kebencian diajarkan: lewat cerita di rumah, lewat ejekan antar kampung, lewat “dulu mereka buat kita begini.”

Kalau perang bisa dipelajari, damai juga harus dipelajari. Dan sekolahnya adalah firman Tuhan, bukan hanya didengar hari Minggu, tetapi ditempuh hari Senin. Sion menjadi kota damai karena di sana orang menjadi murid.

Ayat 4 juga berkata Tuhan akan menjadi hakim dan wasit bagi bangsa-bangsa. Kita kenal ini di para-para adat: dua pihak yang bersengketa duduk, dan ada yang dihormati untuk memutuskan dengan adil. Damai tidak lahir dari pura-pura tidak ada masalah. Damai lahir ketika kedua pihak rela menyerahkan perkaranya kepada Hakim yang lebih tinggi dari mereka berdua, dan rela tunduk pada keputusan-Nya, termasuk ketika keputusan itu tidak memihak kita.

KetigaDamai mengubah senjata, bukan hanya menyimpannya

Inilah gambaran paling terkenal dari Yesaya: “mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas.”

Perhatikan: pedang tidak disimpan di lemari, menunggu dipakai lagi. Pedang dibawa ke tungku. Dibakar. Dipukul. Dibentuk ulang menjadi alat untuk menanam. Dan menariknya, nabi Yoel pernah memakai gambaran terbalik: mata bajak ditempa menjadi pedang (Yoel 3:10). Besinya sama. Arahnya yang berbeda.

Kita di Papua mengerti ini. Parang yang sama bisa membuka kebun, atau melukai saudara. jeda Lidah yang sama bisa menghibur orang yang berduka, atau menghancurkan nama baik orang di WhatsApp. Tangan yang sama bisa memukul, atau memeluk. Damai Sion bukan sekadar berhenti berkelahi. Damai Sion adalah ketika apa yang tadinya kita pakai untuk melukai, sekarang kita pakai untuk menumbuhkan. Dan itu butuh tungku. Butuh dipukul. Pertobatan memang tidak pernah murah.

PuncakMari kita berjalan

Sekarang dengar ayat terakhir. Setelah penglihatan agung tentang semua bangsa, Yesaya tiba-tiba berbalik kepada umatnya sendiri: “Hai kaum keturunan Yakub, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN!”

Seolah Yesaya berkata: jangan tunggu bangsa-bangsa datang. Jangan tunggu dunia berdamai. pelan Mulai dari kita.

Dan berabad-abad kemudian, dari Yerusalem datang Seorang yang mengajarkan jalan Tuhan dengan hidup-Nya sendiri. Ketika murid-Nya menghunus pedang, Ia berkata: masukkan pedang itu kembali. Lalu Ia ditinggikan. Bukan di atas takhta, tetapi di atas salib, di bukit Golgota. Dan Ia berkata, “apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku” (Yoh 12:32).

Itulah gunung yang ditinggikan. jeda Itulah tarikan yang membuat sungai mengalir naik. Di salib, Kristus merobohkan tembok perseteruan (Ef 2:14). Sion kota damai punya nama: Yesus.

ResponsTiga langkah minggu ini

  1. Tinggikan Tuhan sebelum membela diri. Dalam satu konflik yang sedang Saudara hadapi, tanyakan dulu: apa yang Tuhan mau, bukan siapa yang benar.
  2. Berhenti mengajarkan perang. Periksa cerita yang kita wariskan kepada anak-anak tentang kampung lain, marga lain, gereja lain. Ganti cerita dendam dengan cerita pengampunan.
  3. Tempa satu pedang. Pilih satu “senjata” Saudara, entah kata-kata, sikap diam, atau tangan, lalu pakai minggu ini untuk menumbuhkan: satu pesan pemulihan, satu kunjungan, satu permintaan maaf.

PenutupDari spanduk ke jalan

Kita mulai dengan spanduk “Papua Tanah Damai.” lebih hangat Spanduk itu tidak salah. Ia hanya belum selesai. Yesaya juga melihat damai sebelum damai itu terjadi. Tetapi ia tidak berhenti pada melihat. Ia mengajak berjalan. Maka biarlah damai berpindah dari kain ke kaki kita. Dari baliho ke rumah kita. Hai jemaat Tuhan, mari kita berjalan di dalam terang TUHAN.

Doa

Tuhan, Engkaulah yang ditinggikan di Sion. Tariklah kami naik dari arus dendam dan kepentingan diri. Ajarlah kami jalan-jalan-Mu, dan beri kami kemauan untuk menempuhnya. Bawalah pedang-pedang kami ke dalam api-Mu, dan bentuklah menjadi alat yang menumbuhkan. Mulailah damai-Mu dari rumah kami, jemaat kami, dan tanah ini. Dalam nama Yesus Kristus, damai sejahtera kami, kami berdoa. Amin.